Memasak VS Memakan

Memasak VS Memakan

Suatu hari dalam lingkeran rutin saya, salah seorang teman saya tiba tiba dapet inspirasi.

Teman: “Eh adain lomba masak yuuu…, dibagi  kelompok kecil aja, ntar yang kalah mesti ngasih materi”

Saya: ” Wahhhhhh…… ide bagus sih… tapi saya jadi jurinya aja deh, heheh *nyengir* “

Dalam hati : “Kapan ya saya lebih suka masak sendiri daripada makan hasil masakannya?”

“Kapan ya saya lebih jago bikin inovasi makanan daripada jago ngilangin makanan di atas piring?”

Merenung…..

VS

Iya yah saya itu anak cikal…

Iya yah saya itu anak cikal…

Baiklah karena saya lagi seneng nulis, jadi apa aja yang terlintas di pikiran saya berusaha saya tulis, hehehe

Maaf belum konsisten nih hahah :D

Baiklah mulai darimana ya?

Em, judulnya emang mengingatkan saya kalo saya itu anak cikal, anak tertua dari keluarga kecil saya.

Saya adalah anak cikal dan hanya punya satu adik perempuan yang sekarang sedang beranjak dewasa. Umur kami berbeda 3 tahun saja. Cukup dekat, bahkan kadang membuat saya lupa kalau dia adik saya, ya karena mungkin akhir akhir ini lebih terasa seperti teman sebaya daripada adik kecil. Tinggi badan hampir mirip, ya walaupun saya lebih “berisi” (bilang aja lebih gemuk, ehhe).

Sejak kecil saya sebenernya seneng jadi anak cikal, kadang lebih diprioritaskan, kadang bisa “ngejajah” adik saya, hehe. Kadang bisa dapat kesempatan lebih dari adik saya. Tapi suka sebel juga, kalo udah disebut cikal, karena itu ada singkatannya CIKAL = Licik dan Nakal. heheh nyengir nyengir. Sebutan itu keluar kalo sifat keras kepala dan menang sendiri saya udah keterlalauan, ibu saya kadang nyebut gitu ke saya. Saya cuman bisa nyengir kuda.

Walau adik saya cuman satu biji (alhamdulillah cuman satu…), saya kadang memikirkan dia lebih lebih sekarang ini. Yah, dia sekarang sudah kelas XII SMA (baca: SMA tingkat akhir) yang akan masuk univerisitas. Kadang saya khawatir, takut dia salah milih jurusan dan ga betah, takut kalau dia jauh jauh pergi ntar saya kangen (kalo dia baca pasti saya diketawain), takut dia ga mentoring lagi, takut dia digangguin cowok jail, takut dia kena aliran sesat, dan kekhawatiran lainnya.

Ah..saya kayak emak emak aja, khawatir berlebihan…

Ibu saya aja kayaknya nyantai tuh ga segininya banget..

Arrghhh…saya ga bisa nyantai aja…

Biarin saya dibilang teteh cerewet, stalker, atau istilah lainnya.

Yang penting ini ekspresi rasa sayang saya.

Tadi pagi saat sedang membicarakan kuliah dan rencana bisnis saya, tiba tiba bapak nyeletuk,

” Teh, tilu taun deui mah kedah tos gaduh pidameleun nya, engke kedah nagabantosan biaya Ela kuliah tuh”

(translet: Teh, tiga tahun lagi teteh harus udah punya pekerjaan ya, nanti bantuin biaya kuliah Ela tuh)

*adik saya namanya Ela

Itu kata kata sederhana yang wajar dari seorang ayah yang sebentar lagi pensiun dan punya anak yang katanya kuliah di ITB.

Saya cuman bisa tersenyum dan bilang “InsyaAllah Pak..”

Saya harus cepet lulus. Harus cepet dapat kerjaan. Harus cepet mandiri finansial. Biar bisa bantuin adik saya.

Pengen nangis rasanya T_T.

Bukan, bukan, bukan karena saya ga mau nurutin amanah bapak.

Cuman saya sedih, belum mempersiapkan apa apa dari sekarang.

Saya benar benar harus sadar,

“Kamu tuh anak cikal sit…”.

Ga ada waktu untuk banyak bermain dan bersenda gurau. Adik saya adalah salah satu tanggung jawab saya juga, dan suatu hari saya akan ditanyai pertnaggungjawabannya oelh Allah.

Mungkin kelihatan lebay atau galau, tapi ini semacam curhatan dari seorang anak cikal.

Hanya ingin mengingatkan kepada anka cikal yang lain dimanapun kalian berada. Kita ini sangat diharapkan oleh orangtua kita. Kita diharapkan suatu hari bisa jadi ornag yang paling sukses di antara anak anak lainnya. Suatu hari bisa jadi orang yang paling bisa menyenangkan orang tuanya. Suatu hari bisa jadi kebanggan keluarga. Jadi contoh untuk adik-adiknya, Jadi panutan yang diceritakan kepada tetanggan tetangga atau keluarga lain waktu hari lebaran.

Ahh. Ini terasa berat ternyata.

Bukan, bukan, bukan berat karena takdir saya memang seperti ini. Sungguh saya sangat bersyukur jadi anak cikal. tapi merasa Berat karena ini semua akan dipertanggungjawabkan. Akan dihisab.

Ah iya iyah saya ini anak cikal….

?

?

Sejak kecil otak saya sudah dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, mulai dari pertanyaan yang penting sampai pertanyaan yang ga penting dan galau-galau aneh. Dari pertanyaan-pertanyaan itu ada yang sudah terjawab, tapi ada juga yang masih jadi misteri sampai sekarang.

Pertanyaan pertanyaan nyentil kayak,

“Kenapa saya ga punya kakak laki-laki?”

“Kenapa ada pelangi ya?”

“Kenapa saya lahir di indonesia?”

“Kenapa bumi itu bisa berputar?”

“Kenapa saya kuliah di jurusan fisika?”

“Kenapa saya ga senormal yang lain kalo ngebicarain cinta (*lawan jenis)?”

“Kenapa saya belum bisa mandiri finansial?”

“Kenapa saya belum bisa bikin paper penelitian?”

“Kenapa tulisan saya belum bisa dianggap bagus, bahkan menurut saya sendiri?”

“Kenapa dari dulu saya selalu dikelilingi sahabat yang bermasalah dengan ikhwan?”

“Kenapa saya belum bisa peka dan ngertiin sahabat saya?”

“Kenapa saya plegmatis?”

“Kenapa saya cuman bisa jadi pendengar yang baik dan belum bisa jadi penasihat yang baik?”

“Kenapa saya suka marah-marah dan pengen ngelabrak kalau ada yang nyakitin temen saya, padahal ada cara yang lebih ahsan?”

“Kenapa akhwat itu terlalu kompleks karakternya sampai saya bingung sendiri dan ga ngertiin kalian?”

“Kenapa sayadipercaya pegang amanah ini?”

fiuuh… begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang berlari-lari di dalam pikiran saya. ahh,ini bukan galau, hanya sebuah pikiran-pikiran liar yang sedang saya cari jawabannya.

Mungkin karena akhir-akhir ini saya banyak bertemu orang yang heterogen. Punya karakter dan kepribadian masing masing. Mungkin saya juga lagi cemburu, karena sahabat saya lebih percaya untuk bercerita sama ikhwan daripada saya, seseorang yang katanya sahabatnya. Ya terlepas dari karakter saya yang emang udah dari sononya kayak gini, mungkin ga peka, dkk. Mungkin juga karena akhir-akhir ini mendapat amanah yang menuntut saya berinteraksi degan banyak orang. Mungkin juga karena terlalu lama diam dalam zona nyaman saya.

Mungkin juga karena saya harus selalu mencoba hal hal yang baru, bukan nyaman dengan yang sekarang ini sudah saya miliki. Saya harus mencari jawaban itu dari orang-orang lain di luar lingkungan saya sekarang. Dan mungkin juga akan timbul pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Mungkin saya harus belajar lebih dan lebih lagi. Mungkin juga keimanan saya yang belum cukup untuk Allah memberikan jawaban itu pada saya.

yupz…

itu jawaban paling tepat,

Karena kehendak ALLAH..

Allah belum mengizinkan saya bisa mendapatkan  banyak hal. Karena saya pun belum berusaha berjuang semampu yang saya bisa.

Saya belum mencapai tingkatan untuk pantas mendapatkan jawaban.

Dan saya akan terus bertanya, mencari jawaban, dan yakin pada Allah…

*ah postingan ini benar benar aneh, mohon maaf, pikiran-pikiran liar ini harus saya keluarkan dari otak saya sepertinya. :)

Saat jumlah yang banyak itu dipertanyakan…

Saat jumlah yang banyak itu dipertanyakan…
“Kalian (muslimin) akan diperebutkan oleh umat-umat lain seperti orang-orang yang siap memakan (hidangan) yang ada di hadanpannya”. Kami (para sahabat) bertanya. “Apakah diakarenakan jumlah kita SEDIKIT pada saat itu, wahaiRasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak, namun kalian seperti BUIH di air bah, sungguh Allah akan mencabut rasa TAKUT dari hati musuh-musuhmu, dan sungguh Allah akan memasukkan penyakit WAHN dalam hatimu.” Kami bertanya, “Apa penyakit wahn itu wahai Rasulullah?” Beliau menajwab, “CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI”

Saat seseorang bertanya, “Dimana Kader kita saat dibutuhkan?Disini tak ada, disana tak ada, dimana kalian? Katanya kita terbesar dan tersebar?”
Apakah sedang mengerjakan amanah yang lain?
Apakah terlalu sibuk dengan akademiknya?
Apakah saking bingungnya mengerjakan apa sehingga tidak memilih amanah apapun?

Membaca hadist diatas membuat saya merinding, jangan jangan karena memang kualitas kita yang masih rendah. Kapasitas kita yang memang belum sanggup memegang berbagai amanah kampus. Jangan-jangan pembinaan kita sendiri masih kacau balau. Bahkan mungkin kita masih berpikir-pikir dahulu atau malah enggan untuk memiliki binaan.
Menjadi sebuah sentilan kecil yang menyakitkan saat mengingatnya.

Saya pikir kita harus mulai menyadari diri, sudah sampai dimana kemampuan dan kualitas kita.
Dan tidak cukup kita hanya datang mentoring satu pekan sekali.

Tak cukup hanya saling menyalahkan satu sama lain

Tak cukup hanya saling tegur di dunia maya

Tak cukup hanya berdebat tentang ini
Kita butuh lebih dari itu.
Kaderisasi ala Rosulullah.
Kaderisasi yang berlandaskan cinta dan pemahaman, bukan sekedar ikut ikutan belaka.
Masih banyak yang harus kita lakukan, terutama saya pribadi.
Dan saya harus berjuang, ini bukan PR yang hanya bisa dikerjakan satu orang saja, bahkan bagi orang super sekalipun.
Ya Rabbi, tuntunlah kami agar kami selalu berada dalam keridhoan-Mu
Lindungi kami dari perbuatan yang salah dan menyimpang dari ajaran-Mu
Kuatkan ikatan antara hati-hati kami ya Allah
Persatukan kami di jalan-Mu
Dan jadikanlah jalan ini jalan terakhir kami sampai suatu hari tiba saatnya berjumpa dengan-Mu, Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin :)

AWAS !!!! Hati-hati Kekenyangan !!!

AWAS !!!! Hati-hati Kekenyangan !!!

Akhir akhir ini saya sering banget denger temen yang kaget liat saya makan, saking liat banyak makan dan segala dimasukin…hahah
entahlah mungkin karena mereka belum terbiasa liat orang makan cepet, dan segala suka atau emang sayanya yang emang kelewatan untuk standar akhwat ya, hehe
Salah satu temen saya ampe bilang, “aduh sit, emang makanan apa sih yang kamu ga suka?”, kalo ditanya kayak gitu saya juga bingung, heheh *dasar*
Mungkin karena saya berasal dari keluarga yang pada doyan makan kali ya..*nyalahin keluarga lagi, he ^^V*
Sampai pernah suatu hari saya cerita sama mamah kalo saya sering dibuli karena makannya banyak padahal akhwat, heh
Terus mamah saya dengan dinginnya menanggapi, “Ya udah gapapa, yang penting mah sehat. Ga usah pake diet diet segala”
Di satu sisi bener juga sih, tapi satu sisi lain mungkin kita harus balik ke belakang melihat cara makan Rosululloh dulu kayak apa ya…

Sebelumnya mungkin kita pernah mendengar lirik lagu ini…
Yup… lirik ini berjudul Sepertiga dari Tashiru, lagu ini diambil dari cuplikan hadist Rosulullah SAW, hadist ini mengingatkan kita terutama saya agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan…

Sepertiga dari perutmu
Isilah dengan makanan
Sepertiga dari perutmu
Isilah dengan minuman
Sisakan sepertiganya lagi untuk pernafasan
Jangan biarkan dirimu terbelenggu nafsu setan

Ada nih yang lebih serem lagi, nemu pas lagi baca buku, ternyata saat kita berlebihan dalam makanan dan membuat kita kenyang ampe ga bisa guling guling *halah* dapat menjadi jalan masuknya setan ke dalam hati kita…
haduuuuhh…. astaghfirullah … T_T
Setan setan pergilah !!!

Kenyang dengan makanan termasuk salah satu pintu masuknya setan ke dalam hati. Meskipun makanan itu murni halal. Karena kenyang bisa menguatkan berbagai syahwat yang merupakan senjata setan.

Dikatakan bahwa ada enam sifat tercela yang terjadi akibat banyak makan.
1. Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari dalam hatinya
2. Menghilangkan rasa kasih sayang dterhadap sesama makhluk dari dalam hatinya karena ia mengira bahwa mereka semua kenyang
3. Menjadikannya malas melakukan ketaatan
4. Ia menjadi tidak tanggap apabila mendengar perkataan hikmah
5. Apabila menyampaikan nasihat dan hikmah, maka penyampainnya itu tidak menyentuh hati banyak orang
6. Menimbulkan banyak penyakit

Dari buku Tazkiyatun Nafs – Sa’id Hawwa

Aiih aiih…
harus hati hati nih sekarang, mungkin selama ini rasa malas itu datang dari perut yang isinya berlebihan ini ya, >_< astaghfirullah..
Dan mungkin juga kata kata yang kurang bermakna juga diakibatkan dari makanan yang kruang berkah ini

Tapi Subhanallah ya…
Begitu indah ajaran Islam, bahkan hal yang terkecil seperti ini pun diajarkan oleh Rosulullah…
Wuahh… terima kasih ya Allah…
Dan sudah sampai mana kita mencontoh rosulullah dari hal yang terkecil???
yu yu yu…
Jaga makanan kita, makan bergizi dan jagan berlebihan
Insya Allah dijamin badan sehat, pikiran encer dan aksi aksi kita penuh barokah
aamiin… :D