Menapaki (kembali) “terjebak” di Dunia Mentoring, Part I


Bermula dari saat dulu, dulu sekali waktu saya masih SMA *aiiihh udah tua ternyata saya…

Terjebak masuk Rohis karena orang tua ga ngizinin ikut ekstra kurikuler yang banyak outdoornya, takut kecapean katanya..

sebagai anak yang baik hati dan tidak sombong, maka menurutlah saya. Dan karena ga ada ekskul lain yang saya minati di SMA, pilihan terakhir ada di rohis SMA saya, ya sedikit terpaksa namun akhirnya saya isi juga formulirnya.

Karena diawali dengan niat yang kurang baik dan benar walhasil begitulah saya, hadir cuman kalo acara penting doang, ga pernah ikut piket masjid, dan paling bandel kalo disuruh ikut MENTORING.

Mentoring, disana saya pertama kali mendengar kata itu disebut, lah setelah dijalani (ikut sekali doang maksudny, hehe), saya pikir isinya cuman curhat curhat doang dan sharing dari tetehnya. Sebagai jiwa super plegmatis, saya sedikit bosan dengan forum seperti itu.Dan akhirnya di tahun pertama SMA bisa dihitung jari berapa kali saya ikut salah satu pembinaan di Rohis SMA itu.

Walau bandel setengah mati, saat naik kelas XI saya masih dianggap anggota rohis ternyata, hehehe *ngikut nama doang biar ada nilai di raport semesteran. Tapi itu bukan masalah awalnya, dan diawali dengan tercantumnya nama saya di daftar anggota yang bertahan, dan itu artinya saya termasuk daftar nama calon pengurus Rohis. *Gaswat !

Karena merasa tidak enak dengan teman teman dan kakak senior yang sudah mengajak dnegan sepenuh hati, maka ikutlah saya semacam dauroh ntuk persiapan pengurus, LDKO namanya *bahkan saya lupa kepanjangannya apa, aiiih..

Setelah ikut dauroh itu saya “sedikit” mendapat pencerahan mengenai tanggung jawab manusia untuk berdakwah, amar makruf nahi mungkar. Walau sedikit yang saya tangkap, tapi cukup berkesan bagi jiwa saya yang labil pada saat itu (ya maklum masa SMA).

Seminggu kemudian pengumuman daftar pengurus harian Rohis SMA, dan yang paling aneh saya rasakan, nama saya disebut sebagai salah satu pengurus inti, Siti Nurhasanah, sebagai Koordinator bidang Tarbiyah, (ini semacam divisi yang mengurusi pembinaan para anggota Rohis, mulai dari mentoring, dauroh pengurus, dkk). Bledaaarrr *efek petir….

Mana bisa saya megang amanah cem gini?? what??? saya dijerumuskan.. !!!! tidaaakkkk ….!!!(mungkin begitulah kira kira perasaan saya saat itu)

Tugas saya ga banyak sebenernya, mendata anggota rohis dan  memastikan mereka ikut pembinaan, membuat alur materi mentoring (bahasa kerennya kurikulum), dan memastikan teteh pementor hadir buat ngementor di SMA (ini karena mentor adalah alumni).

Sedikitpun saya ga pernah bayangin bakal punya kerjaan kaya gini, huuuuffff….pekerjaan yang ga terlalu mudah menurut saya yang newbie ini.

Dan setahun kepengurusan itu saya jalani dengan banyaknya kegalauan dan kelabilan yang saya lakukan, heheh namun beruntung masih ada kakak kelas yang membantu dan membimbing, seenggaknya ga saya bubarin tuh divisi, hahaha. Tapi dengan menjadi pengurus mentoring ini saya mendapat kenalan senior senior, adik adik kelas yang lucu lucu, bahkan yang paling saya syukuri adalah Allah memberikan saya seorang sahabat setia yang sudah saya anggap keluarga saya sendiri bahkan sampai saat ini, Yunita namanya.

Dengan amanah ini juga saya belajar memperbaiki diri sedikit sedikit, dalam hati saya sering bicara sendiri, “Haduh sit.. masa kelakuanmu mau kayak gitu terus, malu tuh sama jabatan, malu diliatin adik adik, malu sama guru guru, dan yang paling penting malu sama Allah. Mulai kerasa manfaatnya kan punya “jabatan” beginian?”

Pasti ada hikmah di balik “Terjebak” nya kita dalam badai.

Mungkin itu moto yang cocok dengan amanah ini. hehe

Sedikit refreshing:
http://www.youtube.com/watch?v=LNZEqYfPPgk

Tapi sejujurnya ini memang benar benar karunia Allah yang besar yang sangat saya syukuri, dan parahnya lagi baru saya sadari saat saat ini, saat saya sudah berada jauh di posisi itu. Mungkin karena sekarang bisa melihat dengan sudut pandang berbeda.

Saaat kita mendapat amanah yang menurut kita tidak pantas, mungkin kita pernah berpikir, kenapa kita yang dipilih?? masih banyak orang lain yang lebih baik padahal. Setelah beberapa kali “dijerumuskan” dalam amanah, saya katakan bahwa Mindset tersebut harus kita rubah, POSITVE THINKING kuncinya.

Karena sungguh, hanya Allah yang mengetahui hal terbaik dalam hidup kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Al Baqarah[2]:216

Kita harus selalu ber-postive thinking kepada Allah, masalahnya bukan kenapa bisa  kita yang terpilih? tapi saat kita terpilih, karya terbaik apa yang bisa kita berikan??

Mungkin di awal akan ada sedikit rasa minder, kurang PD, takut salah dan lain sebagainya. Namun saat kita berpikir postive, insyaAllah, pertolongan Allah itu datang dengan sendirinya. Baik itu tiba tiba ada teman yang menolong, kakak kelas yang menasehati dengan kata kata bijak, neglihat status fb orang yang menyemangati, atau cuman ketemu orang di angkot yang cerita hal yang sama dan pertolongan lainnya yang tidak disangka sangka datangnya.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” ath-Thalaq [65]: 2-3.

Nah untuk teman teman yang pernah dalam kondisi yang sama atau sedang dalam kondisi seoerti cerita saya, yakinlah bahwa janji Allah itu benar teman teman. Semua hal akan indah pada waktunya, walau mungkin bukan sekarang, tapi pasti suatu hari nanti…

Sehancur apapun kita pada waktu yang lalu, pasti ada hikmahnya di masa mendatang. So, jangan takut. Saat suatu amanah datang kepadamu, terima dengan lapang dada, berazzamlah untuk melakukan yang terbaik, fokus saat mengerjakannya dan yang paling penting dan jangan sampai terlupa, Mintalah selalu pertolongan dan petunjuk dari Allah untuk menjalankan amanah tersebut, karena sungguh karena Allah lah semua hal tersebut terjadi, dan setiap kejadian yang menimpa baik itu baik atau buruk itu karena Allah ingin “mengkader” kita untuk menjadi pribadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.

Dan masa masa galau (baca:SMA ) pun terlewati saat memasuki masa Kampus. Saya diterima di salah satu universitas ternama di negeri ini, dan saya putuskan untuk ikut unit yang berhubungan dengan agama islam (mungkin karena cuman ini yang familiar dengan saya), hehe. Dan cerita ini ga berakhir disini. Perjalanan masih panjang kawan kawan….

6 thoughts on “Menapaki (kembali) “terjebak” di Dunia Mentoring, Part I

  1. wah, alhamdulillah udah dari SMA bersentuhan dengan pembinaan. berarti sense membinanya sudah terbentuk sejak lama.
    beda dengan saya yang dari SMA hingga tingkat tiga berada di syiar terus (kecuali di Mata). hehe.
    yoroshiku onegaishimasu! =j

  2. sinuu~ aku mampir😀

    wah, jadi ini cerita versi lengkap yang pas kita deep intro~ itu ya hehe..

    aku juga pernah siti, sempat merasa ‘terjebak’ dalam amanah2 tertentu.. terus pada akhirnya, menyadari bahwa memang Allah-lah yang paling tau dimana titik terlemah kita dan bagaimana menguatkannya.. boleh jadi lewat amanah tersebutlah Allah ingin membuat kita jadi lebih baik🙂

    jadi… selamat belajar dan mengambil pelajaran di samudra kehidupan!

    • waaaah saudarikuu…makasih kunjungannya, aku juga suka deh blognya sarah..
      heheh iya ini cerita lengkapnya,
      hemmm…bener bener, Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengkader kita🙂
      yoi, semangat!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s